22.08
Apakah anda pernah berpikir darimanakah anak
kita belajar untuk mencela? Adakah kemiripan cara bicara dan perilaku antara
Anda sebagai orangtuanya dan anak anda?
Anak-anak ibarat sebuah spons, mereka menyerap apapun yang mereka lihat, rasa,
dengar dan raba melalui semua panca indera mereka. Andalah, sebagai orangtua
merupakan model mereka yang pertama dan yang paling berpengaruh. Orangtua
boleh saja berupaya keras, bahkan sampai jungkir balik, mengajarkan nilai-nilai
tertentu melalui kata-kata, namun anak-anak pasti akan lebih mudah menyerap
nilai-nilai yang disampaikan melalui perilaku, ekspresi perasaan, dan sikap
orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Anda mengekspresikan dan mengelola perasaan Anda sendiri, akan
menjadi nilai yang diingat oleh anak-anak Anda seumur hidup mereka. Proses ini
masuk dan tertanam dalam diri anak melalui pikiran bawah sadar mereka.
Pola perilaku dan sikap seperti apakah yang
mempengaruhi anak-anak kita ? Kami mendaftar ada 19 perilaku dan sikap
yang membawa pola positif dan negatif pada anak-anak kita. Marilah kita lihat
yang pertama.
Jika Anda sering memberikan kritik pada
anak-anak maka mereka akan belajar mengutuk.
Haah..... apa betul dampak yang diakibatkan
sedalam itu? Ya..... kami tahu beberapa dari Anda akan terkejut dan tidak
menyangka bahwa dampak yang ditimbulkan akan mempengaruhi kepribadian anak.
Kritik dapat disampaikan dengan berbagai cara misal melalui kata-kata, nada
suara, sikap, atau bahkan pandangan. Anak-anak, terutama anak kecil, sangat peka terhadap
bagaimana kata-kata
itu diucapkan dan akan memasukkannya
ke dalam hati. Anda bisa saja bermaksud untuk memotivasi anak
agar mengerjakan PR dengan lebih cepat. Namun cara penyampaian yang tidak benar
misal dengan mengatakan "Mengerjakan PR seperti itu saja sulit!" akan
berdampak adanya perasaan tidak bangga dengan dirinya sendiri.
Perkataan yang diucapkan biasanya dipengaruhi oleh suasana hati Anda. Jadi
merupakan hal yang wajar jika sesekali dalam diri kita timbul rasa kesal dan
sesekali juga timbul keinginan untuk mengritik. Namun jika kedua kondisi
tersebut berlangsung secara terus menerus dapat dipastikan kehidupan yang
dijalani adalah kehidupan yang penuh dengan usaha untuk mencari kesalahan.
Oleh sebab itu, sebagai orangtua kita mempunyai pilihan: kita bisa menciptakan suasana
emosional yang kritis dan mengutuk, atau, suasana yang mendukung dan mendorong
pertumbuhan emosional anak. Hal yang perlu diingat, apabila
sebuah kritikan dilontarkan–terlepas ke mana diarahkannya–akan memiliki dampak akumulatif
dan menciptakan suasana
menghakimi dalam kehidupan keluarga.
Sebuah contoh nyata yaitu Sally yang berusia
enam tahun sedang berdiri di meja dapur menata bunga-bunga yang baru dipetiknya
dalam sebuah wadah plastik berisikan air. Tiba-tiba..... gedubrak!!! Wadahnya
jatuh, sehingga air, dedaunan, dan bunga-bungaan bertebaran di mana-mana. Sally
berdiri di tengah-tengah semuanya itu, basah dan menangis. Ibunya, yang baru
pulang dari kantor dalam keadaan lelah dan letih, langsung menghampiri Sally.
Ketika melihat tempat yang berantakan tersebut, beliau langsung
"bersyair" dengan suara merdu nan lembut "Ya..... ampuuunnn!!!
Bagaimana sih kamu sampai begitu ceroboh? Sudah berapa kali mama kasih tahu
kamu kalau .......... (begini ni ni ni begitu tu tu tu)" katanya
frustrasi.
Kita semua pernah bersikap begitu. Kita bereaksi tanpa berpikir. Kata-kata
keluar dari mulut kita demikian cepat dan otomatis (kayak mesin penghitung
uang) sehingga terkadang mengejutkan diri kita sendiri. Hal itu mungkin terjadi
ketika kita sedang letih atau sedang mengkhawatirkan suatu masalah sehingga
kurangnya kontrol diri. Tetapi tidaklah terlambat untuk mengubah nada kita dan
mencegah "kenakalan" si kecil ini agar tidak terlalu dibesar-besarkan
melampaui proporsinya sehingga merusak harga diri sang anak.
Kalau ibu Sally berhenti, menenangkan diri
dari rasa kaget dan minta maaf karena membentak, mungkin suasananya akan
menjadi lebih baik. Sebenarnya dalam diri Sally mungkin sudah terdapat perasaan
takut dan menyesal pada kejadian tersebut maka jika ibu Sally terus saja
mengritik, lambat laun dalam diri Sally timbul pandangan bahwa dirinya tidak
kompeten, ceroboh dan lain sebagainya. Jika ini sering terjadi maka program
bawah sadar akan mulai terbentuk dan terjadi pembentukan konsep diri yang
negatif.
Mencapai keadaan ideal demikian memang sulit
karena terkadang kita terbawa perasaan jengkel dalam diri. Untuk itulah, kita
harus bekerja keras dalam memahami
dan mengendalikan reaksi emosional yang timbul dalam diri. Akan
sangat membantu dan berbeda jika saja ibu Sally mengatakan, seperti, "Kok
bisa jatuh ya?..... Ayo kita sama-sama membereskan bunga yang jatuh", ini
menekankan kejadiannya ketimbang Sally, anaknya.
Dan ini akan mencegah sang anak merasa
dirinya tidak memadai dan gagal serta memerikan ruang bagi proses pembelajaran
yang membangun. Sang anak akan terdorong menjelaskan kejadiannya sehingga ia
dapat melihat bagaimana kejadian yang satu dapat mengakibatkan kejadian yang
lain. Apabila anak sudah memahami sebab akibat kejadian, mungkin ia bisa
menemukan apa yang bisa ia perbuat secara berbeda di masa akan datang. Bukankah
anak belajar dan membangun dirinya dengan apa yang ia alami sebelumnya?
Sesungguhnya belajar tidak mengenal batasan, jadi mengapa kita harus terus
memberi kritik yang bisa melumpuhkan semangat belajarnya dan merusak harga
dirinya. Janganlah kita menggunakan kritik kepada anak-anak kita dengan
"bermaksud" mendorong mereka agar berbuat lebih baik (mungkin demikianlah
cara orangtua kita sendiri berkomunikasi dengan kita ketika masih kecil)
tetapi anak-anak tidak menganggap kritik sebagai suatu dorongan. Bagi anak-anak
kritik terasa seperti
serangan pribadi dan lebih
mungkin membuatnya membela diri ketimbang bekerjasama. Selain
itu, kritik menyebabkan anak kecil menganggap diri mereka sendiri tidak diterima.
Apabila kita terpaksa memberikan kritik kita harus menekankan bahwa kita tidak
suka apa yang mereka
perbuat bukan diri mereka.
Dididik melalui kritik juga menyebabkan anak
berpandangan bahwa mengkritik adalah satu-satunya cara untuk mengekspresikan
ketidaksetujuan dan ketidaksukaan pada orang lain. Itulah sebabnya, mengapa
banyak orang dewasa yang lebih sering mengkritik dan mencela daripada
bersama-sama mencari solusi untuk jalan keluar yang lebih baik. Bukankah itu
yang sedang terjadi dalam pemerintahan negara kita ???
Luangkanlah waktu untuk mempertimbangkan dampak kata-kata kita.
Kita dapat mengucapkan hal-hal yang perlu kita ucapkan tanpa mengurangi ego
anak dan memikirkan dampak dari ucapan kita. Apapun yang terjadi, kita dapat
memberitahu dia bahwa dia OK, walaupun yang diperbuatnya tidak OK!
SalamPendidikanBapak Ariesandi Mengucapkan kata-kata bukanlah hal yang sulit namun
merangkaikannya dan mengucapkannya pada saat yang tepat memerlukan latihan.
Anda Pasti Bisa!!!
"Kesempurnaan dicapai melalui
pengalaman, baik yang manis dan pahit. Semuanya mempunyai bagian dalam
membentuk diri kita. Demikian juga, pengalaman membentuk anak-anak kita. Biarkanlah
mereka membuat serangkaian kesalahan, tunjukkan dengan lembut bagaimana ia bisa
belajar dari kesalahan itu demi masa depannya, dan doronglah ia untuk mencoba
lagi. Proses tersebut yaitu coba-gagal-belajar-ulangi merupakan cara untuk
mencapai kesempurnaan.
""Seseorang
yang mengatakan bahwa pendidikan adalah mahal, belum memahami mahalnya sebuah
kebodohan" (Ariesandi)
red more.....
0 komentar:
Posting Komentar