Sabtu, 16 Juni 2012

DARI MANAKAH ANAK MEMULAI BELAJAR ???

 Apakah anda pernah berpikir darimanakah anak kita belajar untuk mencela? Adakah kemiripan cara bicara dan perilaku antara Anda sebagai orangtuanya dan anak anda?


Anak-anak ibarat sebuah spons, mereka menyerap apapun yang mereka lihat, rasa, dengar dan raba melalui semua panca indera mereka. Andalah, sebagai orangtua merupakan model mereka yang pertama dan yang paling berpengaruh. Orangtua  boleh saja berupaya keras, bahkan sampai jungkir balik, mengajarkan nilai-nilai tertentu melalui kata-kata, namun anak-anak pasti akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang disampaikan melalui perilaku, ekspresi perasaan, dan sikap orangtua dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Anda mengekspresikan dan mengelola perasaan Anda sendiri, akan menjadi nilai yang diingat oleh anak-anak Anda seumur hidup mereka. Proses ini masuk dan tertanam dalam diri anak melalui pikiran bawah sadar mereka.

Pola perilaku dan sikap seperti apakah yang mempengaruhi  anak-anak kita ? Kami mendaftar ada 19 perilaku dan sikap yang membawa pola positif dan negatif pada anak-anak kita. Marilah kita lihat yang pertama.

Jika Anda sering memberikan kritik pada anak-anak maka mereka akan belajar mengutuk.

Haah..... apa betul dampak yang diakibatkan sedalam itu? Ya..... kami tahu beberapa dari Anda akan terkejut dan tidak menyangka bahwa dampak yang ditimbulkan akan mempengaruhi kepribadian anak.

Kritik dapat disampaikan dengan berbagai cara misal melalui kata-kata, nada suara, sikap, atau bahkan pandangan. Anak-anak, terutama anak kecil, sangat peka terhadap bagaimana kata-kata itu diucapkan dan akan memasukkannya ke dalam hati. Anda bisa saja bermaksud untuk memotivasi anak agar mengerjakan PR dengan lebih cepat. Namun cara penyampaian yang tidak benar misal dengan mengatakan "Mengerjakan PR seperti itu saja sulit!" akan berdampak adanya perasaan tidak bangga dengan dirinya sendiri.

Perkataan yang diucapkan biasanya dipengaruhi oleh suasana hati Anda. Jadi merupakan hal yang wajar jika sesekali dalam diri kita timbul rasa kesal dan sesekali juga timbul keinginan untuk mengritik. Namun jika kedua kondisi tersebut berlangsung secara terus menerus dapat dipastikan kehidupan yang dijalani adalah kehidupan yang penuh dengan usaha untuk mencari kesalahan.

Oleh sebab itu, sebagai orangtua kita mempunyai pilihan: kita bisa menciptakan suasana emosional yang kritis dan mengutuk, atau, suasana yang mendukung dan mendorong pertumbuhan emosional anak. Hal yang perlu diingat, apabila sebuah kritikan dilontarkan–terlepas ke mana diarahkannya–akan memiliki dampak akumulatif dan menciptakan suasana menghakimi dalam kehidupan keluarga.

Sebuah contoh nyata yaitu Sally yang berusia enam tahun sedang berdiri di meja dapur menata bunga-bunga yang baru dipetiknya dalam sebuah wadah plastik berisikan air. Tiba-tiba..... gedubrak!!! Wadahnya jatuh, sehingga air, dedaunan, dan bunga-bungaan bertebaran di mana-mana. Sally berdiri di tengah-tengah semuanya itu, basah dan menangis. Ibunya, yang baru pulang dari kantor dalam keadaan lelah dan letih, langsung menghampiri Sally. Ketika melihat tempat yang berantakan tersebut, beliau langsung  "bersyair" dengan suara merdu nan lembut "Ya..... ampuuunnn!!! Bagaimana sih kamu sampai begitu ceroboh? Sudah berapa kali mama kasih tahu kamu kalau .......... (begini ni ni ni begitu tu tu tu)" katanya frustrasi.

Kita semua pernah bersikap begitu. Kita bereaksi tanpa berpikir. Kata-kata keluar dari mulut kita demikian cepat dan otomatis (kayak mesin penghitung uang) sehingga terkadang mengejutkan diri kita sendiri. Hal itu mungkin terjadi ketika kita sedang letih atau sedang mengkhawatirkan suatu masalah sehingga kurangnya kontrol diri. Tetapi tidaklah terlambat untuk mengubah nada kita dan mencegah "kenakalan" si kecil ini agar tidak terlalu dibesar-besarkan melampaui proporsinya sehingga merusak harga diri sang anak.

Kalau ibu Sally berhenti, menenangkan diri dari rasa kaget dan minta maaf karena membentak, mungkin suasananya akan menjadi lebih baik. Sebenarnya dalam diri Sally mungkin sudah terdapat perasaan takut dan menyesal pada kejadian tersebut maka jika ibu Sally terus saja mengritik, lambat laun dalam diri Sally timbul pandangan bahwa dirinya tidak kompeten, ceroboh dan lain sebagainya. Jika ini sering terjadi maka program bawah sadar akan mulai terbentuk dan terjadi pembentukan konsep diri yang negatif.

Mencapai keadaan ideal demikian memang sulit karena terkadang kita terbawa perasaan jengkel dalam diri. Untuk itulah, kita harus bekerja keras dalam memahami dan mengendalikan reaksi emosional yang timbul dalam diri. Akan sangat membantu dan berbeda jika saja ibu Sally mengatakan, seperti, "Kok bisa jatuh ya?..... Ayo kita sama-sama membereskan bunga yang jatuh", ini menekankan kejadiannya ketimbang Sally, anaknya.

Dan ini akan mencegah sang anak merasa dirinya tidak memadai dan gagal serta memerikan ruang bagi proses pembelajaran yang membangun. Sang anak akan terdorong menjelaskan kejadiannya sehingga ia dapat melihat bagaimana kejadian yang satu dapat mengakibatkan kejadian yang lain. Apabila anak sudah memahami sebab akibat kejadian, mungkin ia bisa menemukan apa yang bisa ia perbuat secara berbeda di masa akan datang. Bukankah anak belajar dan membangun dirinya dengan apa yang ia alami sebelumnya?

Sesungguhnya belajar tidak mengenal batasan, jadi mengapa kita harus terus memberi kritik yang bisa melumpuhkan semangat belajarnya dan merusak harga dirinya. Janganlah kita menggunakan kritik kepada anak-anak kita dengan "bermaksud" mendorong mereka agar berbuat lebih baik (mungkin demikianlah cara orangtua  kita sendiri berkomunikasi dengan kita ketika masih kecil) tetapi anak-anak tidak menganggap kritik sebagai suatu dorongan. Bagi anak-anak kritik terasa seperti serangan pribadi dan lebih mungkin membuatnya membela diri ketimbang bekerjasama. Selain itu, kritik menyebabkan anak kecil menganggap diri mereka sendiri tidak diterima. Apabila kita terpaksa memberikan kritik kita harus menekankan bahwa kita tidak suka apa yang mereka perbuat bukan diri mereka.

Dididik melalui kritik juga menyebabkan anak berpandangan bahwa mengkritik adalah satu-satunya cara untuk mengekspresikan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan pada orang lain. Itulah sebabnya, mengapa banyak orang dewasa yang lebih sering mengkritik dan mencela daripada bersama-sama mencari solusi untuk jalan keluar yang lebih baik. Bukankah itu yang sedang terjadi dalam pemerintahan negara kita ???

Luangkanlah waktu untuk mempertimbangkan dampak kata-kata kita. Kita dapat mengucapkan hal-hal yang perlu kita ucapkan tanpa mengurangi ego anak dan memikirkan dampak dari ucapan kita. Apapun yang terjadi, kita dapat memberitahu dia bahwa dia OK, walaupun yang diperbuatnya tidak OK!

SalamPendidikanBapak Ariesandi Mengucapkan kata-kata bukanlah hal yang sulit namun merangkaikannya dan mengucapkannya pada saat yang tepat memerlukan latihan. Anda Pasti Bisa!!!

"Kesempurnaan dicapai melalui pengalaman, baik yang manis dan pahit. Semuanya mempunyai bagian dalam membentuk diri kita. Demikian juga, pengalaman membentuk anak-anak kita. Biarkanlah mereka membuat serangkaian kesalahan, tunjukkan dengan lembut bagaimana ia bisa belajar dari kesalahan itu demi masa depannya, dan doronglah ia untuk mencoba lagi. Proses tersebut yaitu coba-gagal-belajar-ulangi merupakan cara untuk mencapai kesempurnaan.

""Seseorang yang mengatakan bahwa pendidikan adalah mahal, belum memahami mahalnya sebuah kebodohan" (Ariesandi)

                                                                                    red more.....

 

0 komentar:

CAH LAMPOENG